The Reconstruction of Uma Pangembe Of Ratenggaro

Ratenggaro, South West Sumba, East Nusa Tenggara, 2011

Membangun Rumah Adat Ratenggaro Membangun Bangsa
Sebuah catatan dari pembangunan kembali Rumah-Rumah Ratenggaro

Ter­senyum, seorang wanita menengok lama, kemudian melam­bai tangan. Dari jauh, kain hitam ber­corak merah kecil dan hijau yang mem­balut dada hingga deng­kul­nya semakin memudar hilang oleh peman­dangan bukit. Dengan paras ber­ahang keras, ram­but hitam, dan kulit sawo matang, ia masih tam­pak gem­bira menyapa kami yang baru saja ber­lalu mening­galkan asap abu abu dibelakang, padahal sebuah ember hitam tam­pak mem­beratkan kepalanya dan kakinya masih harus menem­puh sekitar 3 kilometer yang telah kami lewati untuk men­cuci dan meng­am­bil air ber­sih, belum lagi anak­nya yang masih kecil di gen­dong di punggungnya.

Jalan masih ber­batu dan tak cen­derung mulus ber­lalu, beberapa kali pisang mas, plas­tik ber­isi baju ganti, dan botol botol air minum ber­lom­patan seiring dengan jalan yang ber­lubang malaju dalam jalan aspal selebar 5 meter. Pohon pohon kedim­bil ber­cam­pur dengan sengon dan kelapa setinggi 8 meter terus melam­bai dalam panorama padang rum­put ketika musim peng­hujan atau peman­dangan merah savanna pada musim kemarau, merun­dukkan cabang, saling ber­dem­pet dan terus menyem­bunyikan cerita cerita di baliknya.

Laut biru dengan deburan ombak masih ter­bayang. Pasir putih mem­ben­tang jauh, ber­susah payah menahan deras­nya ombak pan­tai selatan, ombak begitu besar meng­gulung memecah ber­kali kali, ber­usaha menem­bus tanah karang kapur di pulau kecil ini. Di balik pan­tai ini, sebuah delta sungai ter­ben­tuk dang­kal, menahan deras air biru asin, sebuah karang tinggi ber­diri di delta sungai, diatas­nya ber­diri batu batu karang laut ber­bong­kah bong­kah sebesar kepala manusia disusun mem­ben­tuk pagar, ditanah atas­nya ber­diri rumah rumah ber­gumul topi topi alang besar dan ter­sebar batu batu karang kubur ber­ben­tuk pasak besar menyebar. Di kerumunan itu, pohon pohon ber­ingin besar setinggi rak­sasa meng­elilingi ber­him­pit seperti sesak dengan gurat gurat akar dian­tara batang­nya. Di bayang bayang­nya kerumunan itu ketakutan, men­dem­pet, memadat, sehingga tepi tepi topi itu sesak melam­paui garis pagar batu yang men­ceng­keram­nya. Ini adalah sebuah vista, sebuah bukit tebing diatas pan­tai dan ber­peng­huni ber­nama kam­pung Ratenggaro.

Itulah Pulau Sumba, Cerita ten­tang laut biru, tanah cadas, dengan sejarah kuda kuda liar­nya yang semakin hilang.

DSC_0434-1-1250 sec at f - 5,0-ISO 125-18.0-55.0 mm f-3.5-5.6-NIKON D3100

[2]

Kesepakatan telah dilak­sanakan setelah ber­kali kali ter­jadi per­temuan adat dengan para tetua adat di kam­pong Rateng­garo (rate : kubur, garo = suku garo, dibaca kubur suku garo) di rumah kebun milik kepala suku yang tidak mudah. Rapat-rapat ini pun beberapa kali meng­alami per­selisihan karena setiap warga merasa tegang,takut, bahkan curiga satu sama lain dalam menyikapi pem­bangunan rumah pen­ting mereka. Tahun 2011 ini masyarakat Rateng­garo sepakat menerima par­tisipasi ban­tuan dari luar, dan sepakat akan mem­bangun 3 rumah adat mereka yang akan di mulai dengan pem­bangunan rumah kepala adat, atau disebut juga uma katoda (rumah kepala) pada tahun ini juga.

Rateng­garo telah lama kehilangan rumah­nya yang dahulu ber­jum­lah 28 buah karena kebakaran hebat pada tahun 2004 yang ter­sisa 2. Kebakaran hebat yang melanda rateng­garo telah menyebabkan struk­tur kebudayaan desa ber­ubah, Uma Katoda yang ter­bakar habis mem­buat masyarakat tidak dapat menen­tukan keputusan keputusan ber­sama, rumah yang diang­gap netral dan pusat seba­gai tem­pat pemilihan suara, menen­tukan waktu waktu pen­ting kegiatan kam­pung seperti waktu ber­cocok tanam, waktu men­dirikan rumah tidak dapat terlaksanakan.

Beberapa pen­duduk merasa tidak memiliki keper­cayaan diri, merasa ber­salah dan merasa men­jadi generasi ter­hukum karena men­dapat petaka tidak memiliki rumah adat­nya. Mereka malu karena kebang­gaan kam­pung telah hilang. Ber­tahun tahun mereka hidup dalam malu, hingga pada tahun 2011 ini mereka memiliki energi dan semangat baru setelah pada suatu hari ada ban­tuan par­tisipasi dari pihak luar untuk men­dirikan satu rumah kepala adat.

Pres­tasi kam­pung yang dulu dikenal seba­gai kam­pung pejuang yang mak­mur dan disegani, men­jadi memudar ber­tahun tahun karena kebakaran dan sis­tem moder­nisasi disegala bidang. Dari per­ubahan sis­tem bar­ter seperti kayu besar dengan binatang ter­nak, atau kemudahan meng­am­bil kayu kon­struksi di halaman mereka, kini harus ber­urusan dengan uang dan biaya per­ijinan. Kehilangan ham­pir 20 rumah adat bukan hal yang mudah bagi satu pen­duduk kam­pung, hingga pada tahun 2011 ini dengan adanya sen­tuhan patisipatif kecil dari Yayasan Tirto Utomo bekerja sama dengan Rumah Asuh dan Robert Ramone dari Rumah Budaya Sumba, menyadarkan dan men­jadi katalis semangat baru kam­pung Rateng­garo untuk maju kem­bali dan bahkan men­jadi energi baru untuk mem­bangun seluruh kam­pung. Dengan dorongan kepedulian ini tiba tiba saja satu kam­pung merasa ter­henyak, dan merasa harus mem­per­baiki kam­pung mereka dengan tangan mereka sen­diri. Dalam tahun 2011 mereka menolak ban­tuan penuh meng­gan­tinya dengan metode par­tisipatif sehingga masyarakat sen­diri tetap menym­bang dan memiliki sense of belonging ter­hadap rumah utama ini. Disam­ping satu rumah utama, mereka sepakat mem­bangun 2 rumah lain­nya dengan biaya sen­diri dan menar­getkan akan men­dirikan seluruh rumah dalam 3 tahun mendatang.

[3]

Masyarakat Sumba, khusus­nya rateng­garo telah dengan bijak menen­tukan lang­kah lang­kah pem­bangunan rumah. Pem­bangunan rumah harus dimulai dengan rapat seluruh masyarakat kam­pung pada bulan febuari, dimana semua keturunan Rateng­garo wajib datang rapat tahunan dan mem­beri sum­bang­sih atau saran saran ter­hadap kam­pung mereka, dari rapat tahunan ini jadwal ber­cocok tanam, per­kawinan, pemakaman hingga pem­bangunan rumah di ten­tukan, dan ten­tunya proses demok­rasi kecil ini bukanlah hal yang mudah meng­gabungkan 300–500 kepala pemikiran dalam satu waktu.

Setelah tang­gal pem­bangunan rumah disepakati, maka yang dilakukan per­tama adalah men­cari Pohon Kedim­bil untuk seba­gai tiang utama. Pemilihan Pohon kedim­bil pun tidak sem­barangan, pohon ini harus memiliki tinggi lebih dari 10 meter dan sudah men­capai 80–100 cm diameter dengan asumsi ber­umur 60–80 tahun, sehingga pohon pohon ini ketika ditanam kem­bali akan sesuai dengan umur rumah dan mem­busuk­nya kayu untuk melakukan peng­gan­tian material atau pem­bangunan kem­bali. Pen­carian dilakukan dengan melalui ijin dan doa per­sem­bahan ke alam dengan cara memotong hewan per­sem­bahan. Upacara ini adalah usaha untuk meminta ijin ke ling­kungan sekitar untuk meng­am­bil hasil bumi yaitu pohon untuk bahan kon­struksi rumah dan dilain hal, pemotongan hewan dalam setiap upacara adalah salah satu cara meng­ganti jerih payah para pekerja sesuai dengan peker­jaan­nya. Setelah material telah ter­kum­pul, material material ini dibawa dan dikum­pulkan di halaman kam­pung, dan kemudian, diadakan per­siapan pen­dirian kon­stuksi utama rumah.
Pen­dirian kon­struksi utama rumah, ter­diri dari 4 tiang utama, cin­cin tiang utama hingga rangka utama atap dalam satu hari. Pem­bangunan dalam sehari ini di gabung dalam satu hari sehingga pem­bangunan berat ini bisa dilakukan seren­tak dan banyak orang (300–500 orang) untuk meng­hemat waktu dan tenaga. Setelah pen­dirian rangka tiang utama hingga atap ini selesai, kemudian satu per­wakilan keluarga akan naik ke atas rangka bambu atap yang bisa men­japai 14 meter untuk menyelesaikan ikatan rangka tam­bahan dan sekaligus ber­fungsi seba­gai uji kekuatan kon­struksi atap.

Setelah selesai dengan rangka dan top­ping off ini, maka dalam 1–2 bulan men­datang hingga awal bulan musim peng­hujan (oktober), rumah sudah harus selesai di finishing baik itu menutup atap dengan alang, menyelesaikan penutup lan­tai bambu sehingga pen­duduk kam­pung pada awal musim peng­hujan bisa memulai aktifitas ber­ladang atau ber­kebun, sehingga sesuai dengan jadwal tahunan kam­pung.
Dapat kita bayangkan dengan jum­lah pekerja yang tidak sedikit bisa men­capai 500 orang dalam mem­bangun rumah adat, dalam kegotongroyongan dan ke hiruk pikuk, setiap proses pem­bangunan dapat disak­sikan selalu penuh dengan ter­iakan semangat, tarian, dan tabuh tabuh ken­derang. Budaya tarian atau di sebut rong­geng ini bisa dilihat seba­gai penyemangat bagi pekerja yang ber­jum­lah kolosal untuk tetap mem­bangun dengan semangat gem­bira dan ber­jalan lancar.

Proses pem­bangunan ini meng­ingatkan kita ketika banyak negara mulai khawatir dengan mem­buruk­nya kualitas bumi kita, setiap orang dan ahli mulai memikirkan ten­tang meng­em­balikan bumi yang kian rusak hingga pada suatu saat Al Gore menyen­tak lewat film The Incon­venient Truth yang meng­gun­cang seluruh dunia di iringi dengan marak­nya Green Architecture. Tetapi di tem­pat ini, kita lupa bahwa tradisi hidup dan mem­bangun Masyarakat Sumba dan ber­atus ratus tem­pat di seluruh Indonesia adalah ins­pirasi bagaimana hidup dan selaras dengan alam dan ling­kungan sekitar, bagaimana hidup dengan cukup.

[4]

Hari hari ini adalah hari hari ke khawatiran kita yang ting­gal di kota besar di Indonesia. Hari hari dimana kita khawatir setiap musim hujan, ber­siap menerima ban­jir dari kota lain, atau ketika kita ter­jebak kemacetan luar biasa setiap harinya. Khawatir akan keamanan kita dengan sekitar kita kawasan per­kotaan dengan jeruji ter­alis dan tem­bok tem­bok tinggi, khawatir akan masa depan anak cucu kita, apa yang ter­sisa, dan bagaimana mereka belajar bahkan hidup, dan ber­main di kota kita. Khawatir dengan kualitas udara bahkan ling­kungan kota yang semakin pekat polusi.

Rateng­garo dan masyarakat sumba lain­nya menyimpan ber­atus budaya unik dan memiliki sis­tem sosial yang menarik. Di dalam­nya bahkan kita dapat belajar demok­rasi ter­ben­tuk dalam setiap per­temuan per­temuan war­ganya, dalam setiap kalen­der tahunan, pada tahun baru, seluruh isi kam­pung wajib datang, ber­is­laturahmi, dan meng­adakan rapat rutin kam­pung. Setiap orang ber­hak meng­eluarkan pen­dapat­nya, dan mem­bahas ren­cana ber­sama untuk kampungnya.

Rateng­garo juga meng­ajarkan bagaimana ber­dam­pingan dengan masyarakat sekitar­nya, mem­bangun ber­sama sama, men­dirikan satu tiang utama ber­sama dengan 500 orang lain­nya dari kam­pung tetangga, saling mem­bantu menyum­bang ber­bagi hasil ter­nak atau ladang seba­gai biaya peng­ganti kerja keras ber­sama sama, dan meng­ajarkan ten­tang arti kata cukup dengan meng­har­gai alam ketika meng­am­bil material secukup­nya dari alam tanpa ber­lebihan. Masyarakat rateng­garo juga meng­ajarkan bagaimana men­jaga kualitas ling­kungan sekitar seperti pan­tai dengan tidak meng­am­bil pasir darinya dan mem­bangun di pan­tai selain keamanan pasang, juga seba­gai ben­tuk mem­per­tahankan pem­berian Tuhan tanpa harus meng­eks­ploitasinya dan mem­biarkan kein­dahan alam ter­sebut dapat dinik­mati bagi siapa saja.

Di kota kota besar, kita seba­gai kaum rasio­nal yang ber­pikir secara modern, dengan segala keun­tungan diri mung­kin lupa bagaimana ber­dialog dengan alam, kita di kota lebih per­caya, manusia seba­gai pusat alam semesta yang meng­ang­gap alam sekitar kita hanyalah peleng­kap untuk dieks­ploitasi bukan seba­gai sahabat hidup.

Mobil ber­henti. padang rum­put luas sepoi ber­angin, dengan segelas kopi manis dari air panas ter­mos, Sumba meng­ingatkan kita, satu tem­pat dengan ber­juta ins­pirasi, akar kita, dan saudara kita. Seseruput kopi ini ditarik hingga ampas menyisa, dalam sore, masyarakat sumba bahkan tem­pat tem­pat lain yang menyebar di seluruh Indonesia, meng­ajarkan kem­bali ten­tang makna.
Hidup sederhana. (*)

Picture 584

IMG_2276

IMG_2252

IMG_7297-1-1000 sec at f - 4,5-ISO 80-6.1-30.5 mm-Canon PowerShot G12

IMG_7266-1-1000 sec at f - 4,0-ISO 80-6.1-30.5 mm-Canon PowerShot G12




Paskalis Khrisno