Suroba Files

Papua, 2013


Suroba File 2015 : Belajar Membangun Peradaban yang Tuntas


Sebuah Catatan dari Perjalanan Pembangunan Kembali Menara Kayou Suroba, Januari 2015

Sekitar 15 orang lelaki ber­badan tegap, ber­lari lari, sam­bil mem­bawa panah dan tom­bak. Dari agak kejauhan mereka ber­teriak teriak, dengan jelas seperti menirukan suara burung, ber­sahut sahutan kemudian tiba-tiba beramai-ramai melem­par tom­bak ke arah sebuah tiang.

Para pria yang telah melem­par atau memanah, kemudian dengan sigap meng­am­bil kem­bali dan kemudian ber­lari men­jauh dan melakukan ritual serupa hingga 3 kali. Setelah selesai para pria kemudian ber­lari ber­sama mem­ben­tuk ling­karan di bawah tiang ter­sebut sam­bil meneriakkan bahasa yang kami tidak meng­erti menyerupai sebuah nyanyian. Setelah lama ber­putar salah seorang pria naik ke atas tiang yang cukup tinggi ter­sebut dengan cekatan. Tak lama pria itu ber­diri di tiang paling atas kemudian ber­teriak; “Ettay!!!!” yang artinya kemenangan.

Tiang ini tak begitu pen­dek, ber­ben­tuk dari beberapa kayu kayu kecil sepan­jang 2–3 meter yang disusun ke atas, dan kemudian di ikat dengan kayu yang lebih len­tur dengan diameter 30–40 cen­timeter. Setelah men­capai keting­gian 12 meter, kemudian tiang itu merekah menyerupai mah­kota, sehingga orang bisa ber­pijak dan diberikan ikatan yang ber­fungsi seba­gai pengaku mah­kota dan juga seba­gai railing pegangan orang yang akan ber­diri diatasnya.

Hari ini adalah proses pem­buatan Kayou di Kam­pung Suroba, Lem­bah Baliem, Papua. Kayou, adalah nama dari tiang ter­sebut. Kayou adalah menara pengawas yang ter­buat dari kayu. Kayou dahulu ter­sebar di kam­pung kam­pung Suku Dani yang ada di lem­bah Baliem, Papua. Kayou digunakan oleh suku Dani seba­gai menara pengawas yang di letakkan di batas batas desa sehingga bisa meman­tau keberadaan musuh yang meng­an­cam kampung.
 

  

 

Setelah pem­bangunan Kayou selesai, para pria ber­jalan kem­bali ke kam­pung dengan bernyanyi-nyanyi ber­sahutan satu sama lain menuju ke silimo. Akhir hari ini para pem­bangun kayou ber­gem­bira dengan meng­habiskan waktu memasak bakar batu dengan seluruh pen­duduk kampung.

[2]

Masyarakat Suku Dani ting­gal ber­kelom­pok dalam satu ter­itorial yang disebut Uma. Satuan ter­kecil dari uma adalah keluarga luas, yang ter­diri dari 2–3 keluarga inti yang ting­gal dalam satu silimo, yang ter­diri dari honai pilamo atau rumah khusus lelaki, beberapa honai edai atau rumah per­em­puan, honai untuk babi dan honai dapur yang ber­kum­pul dalam satu kawasan ter­pagar. Dalam satu uma akan ada beberapa silimo dan di sekitar silimo akan ada ladang yang ber­batasan dengan tanah tak ber­peng­huni dan ber­batasan dengan daerah kam­pung lain baik kam­pung musuh atau kam­pung aliansi.
 

 
 

 

Kayou, di suku Dani digunakan seba­gai menara pengawas. Kayou di bangun di batas ladang di ping­gir kam­pung yang melihat ke daerah tak ber­peng­huni melihat ke arah kam­pung musuh. Setiap menara di jaga oleh pria pria yang memiliki ladang di sekitar­nya. Sehari hari, ketika wanita bekerja di ladang menanam sayur dan ubi ubian, para pria ber­jaga jaga di sekitar menara tersebut.

Per­ang dalam Suku Dani memiliki banyak sebab. Suku dani memiliki paham patrinieal, yang diturunkan melalui anak laki laki. Suku Dani juga di per­kenankan memiliki lebih dari satu Istri tetapi tidak diper­bolehkan menikahi wanita yang dari satu suku (incest). Peperangan dan per­musuhan biasanya ter­jadi karena masalah pelin­tasan daerah per­batasan, per­ebutan per­em­puan dan pencurian.

Dalam peperangan ini Suku Dani meyakini darah yang tum­pah dari per­ang akan menyuburkan tanah mereka untuk ber­cocok tanam. Sejak kedatangan misio­naris dan budaya baru yang masuk ke daerah seluar 45 Hek­tar di Lem­bah Baliem ini, per­ang suku sudah banyak berkurang.

Lem­bah Baliem yang dihuni oleh Beberapa suku ter­masuk Suku Dani dan Lani baru kini telah meng­enal kehidupan modern, ber­mula ketika pesawat per­in­tis misio­nari men­darat dan melakukan kon­tak per­tama awal tahun 30-an. Prak­tik tradisi animisme dan dinamisme dari masing masing kam­pung masih bisa kita jum­pai di beberapa kam­pung di sekitar Wamena, pusat kota Lem­bah Baliem. Suku suku di sekitar Lem­bah Baliem pun sudah tidak takut melakukan per­jalanan dari satu kam­pung ke kam­pung lain­nya yang sebelum­nya rawan karena per­ang suku. Per­lahan juga Menara menara pengawas Kayou meng­hilang karena fungsi utamanya seba­gai fasilitas pengawas kam­pung dari serangan musuh sudah tidak digunakan.

[3]

Agus­tus Tahun 2013, kan­tor HAP dan Rumah Asuh meng­adakan per­jalanan ke Wamena untuk melihat fes­tival Lem­bah Baliem. Ketika per­jalanan ter­sebut, kami dikenalkan dengan Andre Liem dari PATGOM (Papua Tour Guide Com­munity). Andre meng­enalkan kami dengan kam­pung Suroba 12 Km arah barat Kota Wamena yang ter­letak di bawah Bukit Sur. Kam­pung Suroba yang di kepalai oleh Kepala Suku Herman Himan telah memiliki homes­tay yang ter­letak di dekat kam­pung dengan ber­ben­tuk seperti silimo yang ter­diri dari beberapa honai untuk penginapan tamu.

peta suroba-patgom

Pada saat kun­jungan ter­sebut, kami disam­but dengan tari selamat datang yang di ins­pirasi dari cerita per­ang Suku Dani di lokasi kayou yang ter­letak di jalan masuk ke kam­pung Suroba. Kam­pung Suroba memiliki akses masuk yang menyenangkan, cukup mudah di lalui, dengan 10 menit ber­jalan per­tama di sekitar per­bukitan dan ladang, kemudian 15 menit kedua melewati hutan rin­dang dan melewati jem­batan kayu tradisio­nal yang can­tik yang menyebrangi Sungai Aike.

Dari per­jum­paan per­tama, kemudian ter­cetus untuk mem­per­baiki menara kayou yang sudah rapuh pada tahun 2014. Menara Kayou ini kemudian seba­gai katalis pem­bangunan revitalisasi Silimo di Suroba, per­baikan fasilitas honai penginapan turis dan pem­bangunan kem­bali satu Kayou besar di muka kampung.

Lang­kah per­tama yang dilakukan masyarakat adalah melakukan musyawarah besar. Pada Awal­nya pem­bangunan kayou sangat sen­sitif untuk di lakukan karena ditakutkan akan memicu kesen­sitifan kam­pung lain seba­gai petanda per­ang. Masyarakat Suroba kemudian melakukan sosialisasi, ter­masuk ke masyarakat di dalam­kam­pung dan diluar kam­pung. Pem­bangunan Kayou hari-hari ini bukan seba­gai tanda kem­bali ke jaman per­ang dan memicunya tetapi seba­gai sim­bol akan batas desa dan menun­jukkan kemenangan atas mem­per­tahankan budaya. Awal tahun 2015, Kayou besar di bangun, ker­jasama antara Masyarakat Suroba, Rumah Asuh, Patgom, IAI Papua, dan donatur yang ter­sebar seluruh Indonesia.

aerial1

[4]

Kam­pung Suroba adalah awal dari ker­jasama Rumah Asuh dengan masyarakat di Papua. Masih banyak tan­tangan bagaimana dokumen­tasi pengetahuan kon­struksi ber­tradisi bangunan ver­nakular bisa di lakukan dan bagaimana proses pem­bangunan atau per­baikan kem­bali bangunan bangunan ini bisa memicu kebang­gaan masyarakat dan dapat men­jadi katalis pengem­bangan bangunan dan budaya yang menyesuaikan kebutuhan saat ini. Dokumen­tasi ten­tang bagaimana bangunan hasil tradisi ini ber­tahan dan ber­kem­bang sesuai jaman.

Proses pem­bangunan kon­struksi kayou ini mem­per­lihatkan tradisi gotong royong yang masih melekat di bangsa kita, melalui donatur dari ber­ba­gai pihak dan bagaimana masyarakat Suroba sen­diri dapat bahu mem­bahu mem­bangun kam­pung dan bangga melakukan tradisi yang meleng­kapi pem­bangunan­nya. Mulai dari tradisi upacara selamat datang, pen­dirian tiang, per­es­mian tiang, masak bakar batu, hingga tipar(pemberkatan pulang tamu). Seluruh proses ini melibatkan sebagian besar pen­duduk kam­pung baik tetua tetua hingga ibu ibu dan yang muda.

Lain pem­bangunan Kayou, kita bisa lihat ins­pirasi lebih luas­nya lagi lewat cara hidup Suku Dani. Dalam budaya Masyarakat Suku Dani yang kita lihat, kita bisa melihat bagaimana seluruh gaya hidup ber­orien­tasi pada keles­tarian manusia dan ling­kungan­nya. Pria Suku Dani sehari hari meng­gunakan Koteka, penutup kelamin pria dengan meng­gunakan labu kuning yang dikeringkan, sedangkan para wanita meng­gunakan Wah, semacam rok dengan bahan dari serat/rumput yang di rajut. Ketika dingin mereka meng­gunakan minyak babi dan lum­pur yang di olesi ke tubuh mereka yang efek­tif menam­bah kehangatan dan men­diami honai dengan api ung­gun didalam­nya seba­gai pusat kehangatan. Masyarakat Dani juga meng­kon­sumsi ubi ubian dan sayur sayuran seperti buah merah dan daun paku pakuan yang ter­bukti sehat. Segala bahan dan material yang digunakan dalam kehidupan sehari hari masyarakat Dani baik dalam pem­bangunan bangunan, kayou, pakaian, hingga bahan makanan ber­asal dari sekitar mereka dan men­jadi sam­pah yang larut dicerna oleh bumi, bahan yang “Tun­tas”, selesai secara ekologi, les­tari, kem­bali ke alam.

Masyarakat Suku Dani kini pun meng­alami per­ubahan. Gaya hidup modern turut mem­pengaruhi kehidupan masyarakat, tetapi tidak secara tun­tas menyelesaikan masalah. Seperti ber­budaya pakaian yang menim­bulkan penyakit baru seperti flu, penyakit kulit, dsb hingga masalah lim­bah karena peng­gunaan bahan pem­ber­sih­nya (link). Kita yang ting­gal di Kota, yang selalu disediakan makanan nasi dan ber­pakaian yang telah kita ang­gap layak tetapi tidak men­tutaskan masalah secara holis­tik. Kita ditun­tut secara sosial untuk ber­adab tetapi tidak bisa bahkan cen­derung tak acuh menyelesaikan masalah sam­pah seperti misal­nya plas­tik dan deter­gen dari peng­gunaan pem­ber­sih baju. Dari gaya hidup, juga mem­pengaruhi cara kita ber­pikir seba­gai arsitek, con­toh kecil tapi ber­dam­pak besar adalah kita sering­kali tak acuh ter­hadap efek material bangunan yang kita gunakan.

Hari hari ini kita perlu belajar kem­bali, belajar menarik kebijakan dari tradisi masyarakat Suku Dani bagaimana meng­am­bil dan meman­faatkan dari alam secara cukup dan tuntas.Kita ter­jebak dan ber­kutat pada politik sosial dan ekonomi ketika masyarakat tradisi seperti Masyarakat Suku Dani bisa hidup secukupnya.

Per­jalanan dan pem­bangunan kem­bali bangunan tradisi Suku Dani di Suroba dan tem­pat lain di Indonesia, adalah satu titik bagi saya. Titik untuk memikirkan kem­bali apa itu per­adaban dan definisi keter­belakangan, yang ter­nyata kita ang­gap baik tetapi malah menim­bulkan masalah lain yang belum selesai bahkan merusak tem­pat lain karena akibat yang belum ter­pikirkan secara menyeluruh.

Saya men­coba belajar kem­bali pada mereka, men­coba meng­am­bil kebijakan yang baik yang diajarkan masyarakat tradisi untuk hidup dan ber­dam­pingan dengan alam dan lingkungan.

seperti sahut rekan saya, Gede Kresna,

secara tun­tas.


(Paskalis Khrisno)


December 2013, the first kayou watchtower had been built by the full support from the Tirto Utomo Foundation. This is the first project in Suroba, the first step among the future plans for Suroba.

 The following are the process and the future plan to work together with the people of suroba :

 

 

 

 

1.

On 22-24 january 2015, through the initiative of the people of Suroba,together with Rumah Asuh,papua tour guide community (PATGOM), indonesian institute of architects (IAI) -Papua Chapter,and other donors,a kayou watch tower had been built in front of the pathway to Suroba. The reconstruction of the 15 metres watchtower are celebrated in a full ceremony,in a bright blue sky. This reconstruction is hoped to be a generator towards the reconstruction of the suroba village as a tourism village. This reconstruction are made possible by the support from more than 30 donors outside Papua, or we call it as a "gotong royong" project. This is also a symbol of our common awareness to protect our local heritage together.

 

 

 



Watch or short documentary on <iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/vL1ik09aNn4" frameborder="0" allowfullscreen></iframe> (by Vidour and Rumah Asuh)
 

 

2.

February 24,2015, the participants of the reconstruction for the kayou watchtower are having a gathering in The Enterprise - Rumah Asuh's base camp,with Mr Herman Hilman,the chief of suroba,to discuss about the future plan. Mr herman hilman stayed for 2days in The Enterprise before going back to Germany.

 


 

 

3.

The first phase of the reconstruction is to repair 3 old honai (suroba traditional house). One of them has been burned few years ago and not in a good condition today. The reconstruction is hoped to refreshed the whole silimo (suroba traditional village).
 

 4. 

For the long term, the plan is to built a new silimo to welcome the tourist in an authentic suroba atmosphere. In this new silimo,the development of sanitation facility will be one of the main focus. Toilet and bathrooms will be built to accomodate the needs of the tourist.

 

This development of the suroba village is an initiative from the people of suroba  with full support from Rumah Asuh, IAI PAPUA, and PATGOM, with the purpose so that the reconstruction could benefit the people of suroba as much as possible.

 
 

The first kayou watchtower built in December 2013 was fully supported by Yayasan Tirto Utomo, while the second kayou (January 2015) was the result of 35 sharing donors as follows :