KSPN Komodo

Komodo Islands, East Nusa Tenggara, 2014


PERANCANGAN TITIK-TITIK INISIATIF UNTUK KSPN KOMODO DAN SEKITARNYA
"Rebranding dan mengkinikan Pariwisata dalam koridor Eco-Tourism untuk KSPN Komodo dskt"



Tahapan Pekerjaan :

Penyusunan Masterplan oleh Tim Perencanaan
Proses ini diawali dengan studi menyeluruh untuk area yang telah ditentukan termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Kepulauan Komodo dan Sekitarnya oleh tim perencanaan  yang dipimpin oleh Bpk. Ketut Sudiarta dari Bali. Proses penyusunannya melibatkan pemetaan, survey kuesionar hingga beberapa Focus Discussion Group (FGD) dengan perwakilan masyarakat lokal. Tidak hanya pariwisata, berbagai aspek turut dipertimbangkan dalam proses ini antara lain ekonomi dan investasi, kepemilikan lahan, hingga sosial budaya masyarakatnya.
Sebagai hasilnya, muncul sebuah masterplan dengan zoning-zoning yang telah diatur mulai dari Zona (Kluster) Inti, Zona (Kluster) Penyangga, hingga Zona (Kluster) Luar, yang ke depannya diharapkan dapat menjadi acuan rencana pengembangan yang dilakukan, terutama untuk jangka panjang.
 
Dari studi tersebut juga dihasilkan usulan-usulan prioritas untuk pembangunan jangka pendeknya, berdasarkan potensi dan urgensi masing-masing area. Di antara prioritas-prioritas yang dianggap cukup mendesak, dipilihlah Titik- titik Inisiatif untuk Pembangunan yang tertuang dalam dokumen ini.
 
Survey-survey awal
Paralel dengan penyusunan masterplan yang terjadi, Tim Perancangan mulai menyusuri titik-titik yang dianggap potensial sebagai titik-titik Inisiatif Pembangunan untuk KSPN Komodo dan sekitarnya. Beberapa area mengalami fenomena yang kurang lebih sama, beberapa lainnya cukup unik. Tiga Kali survey awal dilakukan, yaitu :
1.       Survey 1 (2-4 Juli 2014; Rendy Hendrawan dan Faiz Suprahman)
Area survey : Pulau Papagaran, Pulau Messah, Bukit Binongko (Bukit Cinta) dan Pantai Pede.
2.       Survey 2 (15-19 Juli 2014; Yori Antar, Faiz Suprahman, Paskalis Khrisno, Gede Kresna dan Dwi Yani)
Area Survey : Pulau Papagaran, Pulau Messah, Bukit Pramuka
3.       Survey 3 (4-6 Agustus 2014; Yori Antar, Paskalis Khrisno dan Gede Kresna)
 
Fenomena dan issue-issue kunci yang ditangkap semakin tegas,  antara lain :
1.       Belum adanya visi yang jelas dari pemerintah, yang nantinya diharapkan dapat menjadi panduan bagi pengembangan kawasan, termasuk diantaranya para investor.
2.       Minimnya keterlibatan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pariwisata KSPN Komodo dan sekitarnya. Hal ini tampak antara lain pada :
·         Dominasi warga asing sebagai pengelola dive center-dive center utama, restoran, kapal phinisi (untuk Live On Boat) maupun hotel-hotel mewah di Kepulauan Komodo dan sekitarnya.
·         Mayoritas guide memang adalah orang Labuan Bajo, namun banyak di antara mereka adalah pendatang, dan kalaupun kunjungan ke desa-desa lokal terkadang dilakukan, namun warga desa lokal umumnya tidak dilibatkan.
·         Desa-desa lokal yang mayoritasnya adalah nelayan, seakan hanya menjadi "penonton" atas pariwisata yang berkembang pesat di daerahnya. Padahal, meninjau potensi lokal mereka, misalnya dari segi kuliner dan penguasaan laut sekitar, mereka seharusnya dapat cukup terlibat dalam pengembangan pariwisata KSPN Komodo dan sekitarnya. Pertanyaan yang muncul, apakah memang mereka mau menerima dan terlibat dalam pariwisata di KSPN Komodo?
3.       Minimnya pengolahan sampah yang berakibat antara lain pada kotornya garis-garis pantai utama di Kepulauan Komodo. Di Pulau Messah misalnya, warga masih membuat sampah-sampahnya yang tidak terurai ke laut lepas, pada saat ombak menjauh. Sebagai akibatnya, saat ombak datang, sampah-sampah itu terbawa kembali ke pulau.
4.       Minimnya infratruktur penunjang pariwisata. Antara lain toilet-toilet umum atau ruang bilas sebagai penunjang wisata pantai, petunjuk-petunjuk atau aturan yang jelas di area-area wisatawan, dll
5.       Pengelolaan potensi lokal yang belum optimal, antara lain pengelolaan hasil laut menjadi kuliner bagi para wisatawan, gula merah, industri souvenir, termasuk diantaranya material lokal.
 
Live In
(16-20 September 2014; Gede Kresna, Lintang Rembulan, Dwi Yani, Resha Khambali dan Faiz Suprahman)
Menindaklanjuti survey-survey yang beberapa kali dilakukan di awal, proses live-in dirasa perlu dan dapat menjadi kunci utama untuk hasil perancangan yang tidak berjarak dengan masyarakat. Dalam proses live-in ini,tim perancangan tinggal di Kampung Messah yang telah disepakati akan menjadi salah satu titik inisiatif untuk pengembangan Desa Wisata di Kawasan Kepulauan Komodo dan sekitarnya).
Aktivitas yang dilakukan antara lain pemetaan yang mendetail (fisik dan non-fisik) hingga pengamatan masyarakat (termasuk diantaranya pemetaan potensi pemimpin-pemimpin lokal sebagai penggerak masyarakat untuk pengembangan pariwisata).
 
                Kesimpulan Survey dan Batasan Pemilihan Titik-titik Inisiatif
                Dari beberapa Survey awal dan live-in yang dilakukan, dipilih titik-titik inisiatif yang diputuskan untuk dirancang lebih lanjut, denga konsep pariwisata berbasis lingkungan (ekowisata) sebagai tema besarnya.
Pemilihan titik-titik inisiatif ini didasarkan pada kriteria-kriteria sbb :
·         Tingkat urgensi yang tinggi, dalam arti memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata, namun terabaikan atau belum terancang dengan baik (quick wins)
·         Berkaitan dengan kepentingan publik
·         Memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat Kepulauan Komodo dan sekitarnya.
 
 
Metode Perancangan Titik-titik Inisiatif
·         Mendengarkan keinginan dan harapan masyarakat terhadap area/ desa atau kampung mereka melalui dengar pendapat atau musyawarah desa
·         Memetakan kebiasaan dan kebudayaan setempat,  dari upacara hingga karakter bangunan
·         Memetakan potensi material dan keadaan lingkungan di masyarakat.
·         Memahami kapabilitas masyarakat setempat dan mendorong partisipasi masyarakat membangundesanya
·         Memilah prioritas pengembangan ekonomi yang berbasis ecotourism
·         Menguatkan dan menggali secara dalam karakter budaya yang sudah ada
·         Mendorong dokumentasi yang baik
 


Pulau Flores adalah pulau dengan lonjakan wisatawan tertinggi di Indonesia dalam rentang waktu 2-3 tahun terakhir ini. Ditetapkannya Kepulauan Komodo sebagai salah satu keajaiban alam dunia (The New Seven Wonders) adalah salah satu faktor pendukung besar untuk lonjakan tersebut. Potensi ini semakin diperkuat, dengan hadirnya beberapa titik-titik destinasi wisata yang tersebar di Pulau Flores, antara lain wisata arsitektur di Kampung Bena (Bajawa) dan Kampung Waerebo (Manggarai), wisata Kepulauan 17 di Riung, Danau Kelimutu, Tarian Caci (Manggarai), beragam tenun tradisional, dan masih banyak lagi
 
Melihat lebih dekat, Kawasan Kepulauan Komodo dan sekitarnya adalah salah satu titik puncak untuk lonjakan wisatawan yang terjadi. Keunikan yang beragam menjadi daya tarik yang besar, antara lain : habitat asli Varanus Komodoensis (Komodo), gugusan pulau-pulau membentuk landscape yang indah, keragaman hayati bawah laut berpotensi besar untuk wisata diving dan snorkelling (yang umumnya dapat membuat wisatawan tinggal hingga dua sampai tiga minggu) ditunjang dengan satu-satunya wisata bahari kapal tradisional phinisi yang memfasilitasi kegiatan island hopping di Kepulauan Komodo dan sekitarnya.
 
Pemerintah Indonesia sendiri telah dengan segala daya upayanya berusaha menanggapi "potensi" ini, salah satunya dengan mengadakan Sail Komodo pada September 2013. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rentang waktu kurang lebih sebulan, memang membawa banyak wisatawan saat diadakan. Namun, seperti dapat dikutip dalam halaman Tujuan dan Sasaran Sail Komodo 2013 (www.sailkomodo.or.id), tujuan utama "Sebagai model percepatan pembangunan daerah kepulauan dan daerah terpencil" memang seakan membuat banyak upaya persiapan dan perencanaan acara ini dilakukan dengan "serba cepat". Dampaknya tentu terasa hingga hari ini. Di Pulau Messah misalnya, dinding-dinding rumah lokal yang tadinya terbuat dari anyaman kayu, kini banyak yang diganti seng di cat warna-warni, hasil bantuan dana persiapan Sail Komodo. Di kawasan sekitar Pantai Pede (Labuan Bajo) yang sempat digunakan sebagai arena pembukaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, muncul jalan-jalan setapak beton, yang tentu saja dari konteks pariwisata, bisa direncanakan lebih baik dari segi material, lokalitas, maupun penataannya. Dari segi kepemilikan tanah, arus investasi membanjir besar-besaran seiring acara ini, sebagai akibatnya di area Labuan Bajo, garis-garis pantai  "virgin" yang ada, kini mayoritas sudah dimiliki perorangan, begitu juga dengan lahan di beberapa pulau di Kepulauan Komodo. Hal ini patut disayangkan, karena peruntukan lahan bagi pantai publik kini sangat sedikit, padahal tentu saja ruang publik yang baik adalah salah satu kunci perencanaan yang baik di suatu wilayah.
 
Jika disimpulkan, dalam beberapa tahun terakhir ini, arus pariwisata yang melonjak berkali-kali lipat dalam waktu relatif singkat, tidak bisa dipungkiri membawa Kepulauan Komodo dalam titik kritisnya. Di saat infrastruktur (termasuk di dalamnya adalah perangkat peraturan yang jelas) dan sistem pariwisata yang ada belum cukup siap dan memadai, masyarakat "dipaksa" siap menjadi tuan rumah baik bagi wisatawan dalam maupun luar negeri. Padahal, masyarakat kawasan ini dapat dikatakan masih sederhana, dengan kehidupan mayoritas sebagai nelayan, dan minim pembekalan untuk pariwisata. Secara fisik pun, kawasan ini belum dilegkapi Rumah Sakit, hingga institusi-institusi pendidikan yang memadai sebagai penunjang kegiatan pariwisata yang berkembang pesat. Rumah sakit misalnya, diperlukan untuk pelengkap kegiatan snorkelling, diving, termasuk juga antisipasi kecelakaan-kecelakaan yang terjadi antara lain gigitan komodo, dsb. Institusi pendidikan dibutuhkan untuk memperlengkapi masyarakat sekitar baik dalam ilmu kepariwisataan, bahasa, kuliner, hingga arsitektur dan lain sebaginya.
 
Berbicara mengenai alam, hal ini cukup ironis, mengingat disaat muncul pernyataan sebagai keajaiban alam dunia, "alam" Kepulauan Komodo sebenarnya justru menjadi taruhan terbesar yang dihadapi saat ini. Pariwisata berbasis lingkungan (ekowisata) yang dikehendaki seakan sulit untuk dilaksanakan diantara desakan waktu dan derasnya arus investasi. Secara jangka panjang, jika "alam" Kepulauan Komodo dan Sekitarnya tidak mampu bertahan, maka tidak hanya industri pariwisata, keseimbangan hidup masyarakatnya pun akan terganggu; ketimpangan sosial akan terjadi.
 
Hal-hal diatas pada akhirnya menunjuk pada pentingnya sebuah perencanaan yang terintegrasi baik. Terintegrasi baik yang dimaksud merujuk pada keseimbangan antara dua faktor :
·         Kemajuan Pariwisata
Terintegrasi baik dengan memperhitungkan aspek-aspek terkait pariwisata berkelanjutan yaitu alam, potensi pariwisata/ekonomi dan masyarakatnya. Dengan mengindahkan faktor-faktor ini, diharapkan muncul masterplan yang terintegrasi baik sebagai acuan pengembangan kawasan dalam beberapa waktu ke dapan, baik jangka panjang mupun jangka pendek.
·         Pemberdayaan Masyarakat
Terintegrasi dalam pelaksanaannya, dengan sepenuhnya melibatkan masyarakat sebagai aktor utama pariwisata di kawasan ini. Hal ini penting, mengingat saat ini masyarakat diperkirakan hanya mendapat maksimal 5-10 % dampak ekonomi dari kemajuan pariwisata. Jika dicermati di Labuan Bajo misalnya, dari pemilik hotel, pemilik tanah, pemilik kapal phinisi, pemilik restoran, hingga juru masak dan instruktur diving hampir seluruhnya dikuasai pihak asing. Pihak lokal hanya "mendapat bagian" sebagai penunjang minor seperti kegiatan bersih-bersih misalnya.



Pekerjaan ini merupakan bagian dari Program Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kepemimpinan Ibu Mari Elka Pangestu.

Dalam Pekerjaan ini, Rumah Asuh bekerja sama dengan Rumah Intaran (Gede Kresna) dalam menggagas konsep eco-tourism yang dirasa sesuai untuk masyarakat Kepulauan Komodo dan sekitarnya.